Ibadah qurban mempunyai nilai ketauhidan yang sangat kental. Ritual
ibadah qurban merupakan momen untuk mengenang kembali perjuangan
monoteistik yang dilakukan oleh nabi Ibrahim. Yaitu seorang nabi sholeh
yang dikenal sebagai bapak tauhid.
Dalam konteks ketauhidan, ibadah qurban yang dilakukan oleh nabi Ibrahim
dengan mengorbankan anak yang dicintainya mengajarkan kepada manusia
sikap bertauhid yang sesungguhnya. Nabi Ibrahim mampu membebaskan
dirinya dari penghambaan kepada materi (dalam hal ini anak yang
dicintainya) menuju penghambaan kepada Allah semata. Melalui ibadah
qurban ini nabi Ibrahim memperlihatkan keimanan, ketundukan dan
ketaatannya hanya kepada Allah. Nabi Ibrahim juga telah berhasil
melepaskan diri dari kelengketannya kepada dunia, baik jasadnya,
jiwanya, hatinya, maupun ruhnya, karena kelengketan kepada dunia akan
menjadi penghalang seseorang untuk melakukan pengorbanan, ketaatan
maupun kepatuhan dalam menjalankan perintah Allah.
Di sisi lain, nilai tauhid yang ada dalam kisah qurban nabi Ibrahim
adalah pengorbanan yang dilakukan oleh nabi Ibrahim diperuntukan bagi
Allah semata tidak untuk selain-Nya. Kisah qurban ini menegaskan
penyangkalan dan pelarangan melakukan ibadah yang dilaksanakan untuk
sesembahan selain Allah, seperti melakukan qurban yang diperuntukan bagi
penjaga pantai selatan agar tidak menimpakan bencana, atau melakukan
qurban yang diperuntukan bagi sesuatu yang akan mendatangkan manfaat,
padahal yang dapat menimpakan bencana dan mendatangkan maslahat hanyalah
Allah semata.
